Home
Last Updated on Monday, 26 April 2010 11:37 Written by Dimas Sandya Tuesday, 02 February 2010 16:47

Pernah mampir ke Bandung? Atau pernah tinggal di Bandung? Pasti kenal dengan yang namanya angkot alias angkutan kota. Sesuai dengan namanya, angkot adalah alat transportasi perkotaan yang memiliki rute tetap tanpa memiliki jadwal keberangkatan atau pemberhentian yang pasti. Umumnya setiap angkot hanya memiliki satu rute yang terkoneksi dengan jaringan transportasi di suatu kota, yang dijelaskan melalui label besar di bagian depan dan belakang angkot, yaitu mengenai asal-tujuan serta nomor trayek, tanpa ada penjelasan mengenai rute yang dilewati. Dalam sistem transportasi perkotaan, angkot dapat dikelompokkan sebagai angkutan paratransit, yakni angkutan umum yang merupakan penerus (feeder) dari sistem angkutan yang berada pada hierarki di atasnya dan memiliki kompabilitas yang tinggi dalam melayani sudut-sudut perkotaan.
Hingga saat ini, angkot merupakan salah satu alat transportasi publik yang paling terkenal, tidak hanya di Bandung, tetapi juga hampir di seluruh kota di Indonesia. Alasannya sederhana, angkot dapat melayani pergerakan penduduk kota yang seringkali disibukkan dengan berbagai aktivitas, hingga ke berbagai sudut kota. Selain itu, jika dibandingkan dengan angkutan umum lainnya angkot memiliki banyak kelebihan, misalnya saja biaya perjalanan yang relatif murah, (terutama untuk jarak dekat), jangkauan pelayanan dengan aksesibilitas dan mobilitas yang tinggi, serta biaya perawatannya yang tidak mahal. Tak heran jika saat ini, di Bandung terdapat sekitar 5346 angkot yang masih setia beroperasi di 38 trayek demi melayani kebutuhan perjalanan warga kota Bandung untuk berhilir mudik setiap harinya.
Bicara tentang angkot, tak melulu soal kemudahan akses dan transportasi. Lebih dari itu, angkot justru lebih dikenal dan diingat orang karena ketidaknyamanannya. Bahkan sudah menjadi rahasia umum kalau angkot identik dengan kesemrawutan lalu lintas, supir yang ugal-ugalan, udara panas tanpa AC, dan tempat duduk yang berdesakan. Ya, image angkot terlanjur melekat seperti itu. Sebagai angkutan umum yang murah meriah, jangan harap ada pelayanan yang prima ketika menaiki angkot. Pendek kata, bisa sampai di tempat tujuan tepat waktu dalam kondisi selamat sudah lebih dari cukup. Namun pertanyaannya, seberapa parahkah manajemen pelayanan angkot di Bandung?
Semua berawal dari sebuah sistem dimana armada angkot yang ada saat ini umumnya dimiliki oleh perorangan dan dikelola bersama dalam koperasi. Nah, masing-masing koperasi ini memiliki trayek sendiri yang menjadi garapannya. Setiap koperasi juga berinduk pada kobanter, yang nantinya berinduk lagi pada pihak Dinas Perhubungan selaku pemilik kewenangan transportasi Kota Bandung. Dengan demikian pada dasarnya pemerintah kota tidak memiliki kekuatan penuh terhadap pengelolaan angkot dan pada akhirnya kesulitan untuk mengatur ketertiban angkot. Pantas saja kalau akhirnya angkot jadi semena-mena dan seringkali susah diatur.
Di samping itu, dalam pengelolaan angkot juga terdapat sistem setoran, yang mengharuskan supir angkot menyewa angkot kepada pemilik perorangan dengan membayar uang setoran dengan kisaran Rp 100.000- Rp 150.000 per hari. Dengan demikian, perhitungan keuntungan angkot adalah jumlah uang yang didapat supir pada hari itu dikurangi biaya sewa angkot (setoran). Hal inilah yang menyebabkan supir angkot memiliki kebiasaan ngetem, karena mereka tertekan untuk mencapai target pendapatan lebih besar dari ongkos sewa angkot. Bahkan tidak jarang terkadang mereka harus nombok untuk memenuhi kewajiban sewa sedangkan pendapatan yang diperoleh hari itu hanya sedikit. Tak heran jika kondisi ini membuat angkot tidak dapat memberi pelayanan publik sebagaimana mestinya. Ini dapat kita lihat dari kebiasaan buruk angkot yang suka ngetem demi memaksimalkan jumlah penumpang, sehingga sering menyebabkan kemacetan lalu lintas dan pemborosan BBM, serta diperparah lagi dengan etika berkendaraan yang buruk dari para supir angkot.
Meskipun demikian, rasanya angkot masih tetap jadi primadona angkutan umum di Bandung. Coba saja lihat, jika ada satu trayek angkot sedang mogok, ratusan penumpang terlantar di jalanan rela menunggu kalau-kalau ada satu dua angkot yang nekat beroperasi, sambil menanti datangnya bantuan.
Ya, disadari atau tidak, angkot telah menjadi bagian dari keseharian kita. Apalagi pengalaman naik angkot, kadang bisa menjadi sesuatu yang unik dan banyak memberikan inspirasi. Pernah merasakan nikmatnya tidur di angkot karena kelelahan? Atau pernah memperhatikan perilaku para penumpang angkot yang seringkali membuat kita tersenyum simpul? Ada orang pacaran yang tangannya terus nempel kayak perangko, ada yang roknya terlalu seksi sampai membuat kita bingung harus duduk bagaimana, ada tukang gosip yang nggak bisa berhenti ngobrol, ada anak sekolah yang sibuk baca buku dambil komat-kamit menghafal, ada banci kaleng yang doyan ngamen dengan membawakan lagu hits terbaru, ada ibu-ibu yang wangi parfumnya bikin mabok se-angkot, dan masih banyak pemandangan nyeleneh lainnya.
Jadi kalau belum pernah naik angkot, rasanya patut dicoba, karena belum benar-benar jadi orang Bandung namanya kalau belum pernah naik angkot. hehehe
Jadi kalau belum pernah naik angkot, rasanya patut dicoba, karena belum benar-benar jadi orang Bandung namanya kalau belum pernah naik angkot. hehehe
| < Prev | Next > |
|---|




Comments
RSS feed for comments to this post.