Home
Geowisata Bandung Selatan
27-01-2010 | Nurul Wachdiyyah
Jalan-jalan. Tema yang sedang jadi tren hampir dua tahun belakangan ini di Bandung. Tema jalan-jalan yang saat ini sedang berlangsung di Bandung adalah Geowisata karena perdua-bulannya diselenggarakan oleh TRUEDEE, sebuah Penerbit di Bandung. Loh kok penerbit? Iya. Mereka adalah penerbit buku berjudul Wisata Bumi Cekungan Bandung (WBCB) yang jadi pedoman jalan-jalan yang bertemakan GEOTREK. Jalan-jalannya dipandu oleh penulis buku tersebut, yaitu T. Bachtiar (TB) dan Budi Brahmantyo (BB). Keduanya adalah dedengkot geografi, geologi, dan budaya di Bandung. Sebenarnya masih banyak yang jadi ahlinya kedua bidang diatas, hanya saja bapak-bapak tersebutlah yang aktif mendekati masyarakat umum melalui acara jalan-jalan. Geotrek adalah rute perjalanan menyusuri beberapa kawasan tertentu yang saling terhubung satu sama lain. Lintasan yang dilalui mengandung unsur sejarah hunian dan budaya kawasan, asal usul kawasan, serta bentukan geologi dan geografi. Wisata geotrek ini bernama Geowisata. Selain menggunakan kendaraan umum, hampir setengahnya dari Geotrek dilakukan dengan berjalan kaki. Karena itu, kondisi tubuh yang sehat itu syarat mutlak kalau ikutan jalan-jalan model gini. Buku ini memuat sembilan trek Geowisata. Truedee mengajak masyarakat umum untuk cicip jalur Geotrek yang terdapat dalam buku berhalaman 276 ini. Geowisata geotrek I dilakukan pada bulan Agustus 2009. pada akhir tahun 2009, Truedee kembali menyelenggarakan geowisata geotrek II. Tujuannya adalah Bandung selatan, yaitu kawasan Gunung Puntang di lereng Gunung Malabar dan Pangalengan. Pagi pukul 6.28 jalan Ganesa depan kampus ITB sudah ramai oleh kerumunan orang. Salah satunya kelompok Geotrek II. Kami diminta kumpul setengah tujuh pagi. Keberangkatan menuju Pangalengan dijadwalkan pukul 7 pagi. Jumlah pesertanya mencapai 60 orang dan dua minibus siap mengangkut kami menuju tempat lokasi. Bandung hari sabtu pagi, tidak terlalu ramai. Bahkan terusan Buah Batu juga bisa dilewati dengan cukup mulus. Sa...
+Baca terus ...
+Baca terus ...
12 Kode Etik Penumpang Angkot Bandung
30-04-2010 | Nurul Wachdiyyah
Katanya yang bikin kemacetan di Bandung itu biang keladinya adalah angkot dan sopirnya. Benarkah demikian? Ternyata gak selalu salahnya ada pada sopir angkot. Kadang-kadang sebagai penumpang kita juga sering bikin ulah. Ulah ini berakibat pada mood penumpang yang lain, bahkan sopirnya juga. Yang paling fatal ya ulah yang bisa menimbulkan kemacetan. Makanya kami susun beberapa kode etik penumpang yang kami susun berdasarkan pengalaman sendiri.
Kode Etik Penumpang Angkot:
Dilarang memakai high heels. Kasihan penumpang lain karena kemungkinan kaki mereka terinjak high heels adalah 99%.
Dilarang merokok.
Jangan pura-pura gak liat kalau ada orang lain yang naik angkot, geser! Mau jarak dekat atau jarak jauh, ya geser ajaaaaaa
Kalau orang di sebelah anda tidak mau geser, bilang permisi. Kalau orangnya pura-pura gak mau tahu, goder saja kepalanya dengan sikut dan pura-pura anda tidak melihatnya
Kalau anda mau keluar dari angkot dan orang yang duduk di kursi artis gak mau turun dulu, bilang permisi, kalau dia pura-pura gak mau tahu, injak saja kakinya.
Jangan membicarakan masalah pribadi di angkot, ketahuilah penumpang yang lain pasti nguping.
Jangan mempertontonkan kemesraan berlebihan di angkot, nanti ada yang ngiler atau bisa jadi nanti ada yang ngegrebek.
Usahakan tidak tidur di angkot, bukan apa-apa, jelek banget keliatannya dan tidak terkendali. Kecuali anda Luna Maya.
Hmm, ada baiknya jangan menggunakan rok mini, karena mereka yang makai rok mini pasti duduknya miring guna menutup sebagian pahanya. Tapi hal ini bisa bikin orang lain kerepotan
Kalau berambut panjang, usahakan diikat rambutnya. Karena tiupan angin dari jendela angkot bikin rambut panjang berkibar-kibar dan mengganggu penumpang di sampingnya.
Siapkan uang receh selalu ya, karena ini baik gak hanya untuk kita tapi juga untuk kebaikan sopir angkot.
Begitu turun dari angkot dan bayar ongkos ke pak Sopir, ucapkan terima kasih atau hatur nuhun.
Ini baru dua belas loh, ...
+Baca terus ...
+Baca terus ...
Bicons - Bird Conservation Society
19-04-2010 | Nurul Wachdiyyah
Pernah melihat orang-orang berkumpul di Taman Ganesha sambil bawa-bawa teropong pada hari minggu ? Nah itu dia teman-teman dari komunitas BICONS.
Ternyata bisa jadi pengalaman seru loh mengamati burung-burung terbang atau menclok di pepohonan. Ayo sesekali kita ikutan program dari Komunitas BICONS. Setiap hari minggu pukul 8 pagi mereka nongkrong di taman Ganesha untuk mengamati burung-burung di sana. Salah satu alat yang digunakan adalah teropong yang disediakan oleh BICONS. Selain menambah pengetahuan tentang burung di Bandung, kita juga dapat kenalan dan pengalaman baru!
Begini caranya untuk bergabung dengan BICONS atau sekedar ingin tahu lebih banyak tentang mereka:
Jl. Paledang No. 21 Cibeureum Bandung 40184 Telp./Fax.: 022-6070139 http://bicons.wordpress.com/ bicons2000@yahoo. com ...
+Baca terus ...
+Baca terus ...
Sop Buah Nomor Satu di Bandung
26-08-2009 | Susi Dwiyanti
Istilah makanan segar ini dimulai dari kota Bandung. Dipopulerkan oleh seorang bapak-bapak yang nongkrong sehari-hari dengan barang dagangannya di Gedung Sate. Sop buah Pak Ewok adalah sop buah racikan pak Ewok. Pak Ewok menjual sop buah di belakang Gedung Sate. Sekitar akhir tahun 90an beliau sudah menempati kantin bawah tanah Gedung sate. Jika hari mulai sore atau pada hari libur, gerobaknya keluar dari kantin tersebut dan dibawa ke halaman belakang gedung sate yang pada masa itu selalu penuh oleh anak-anak muda yang latihan skateboard dan sepeda BMX. Ketika pembeli tambah banyak, Gubernur yang baru merasa terganggu. Akhirnya mereka pindah ke pinggir jalan Cimandiri di belakang Gedung Sate (dengan tetap berjualan juga tiap hari kerja di kantin Gedung Sate) hingga sekarang. Istilah sop buah dimulai dari sejarah Pak Ewok yang berjualan es campur. Suatu hari dibuatlah satu variasi es campur yang isinya buah melulu. Untuk membedakannya dengan es campur, maka dipakailah istilah sop buah. Kenapa gak pakai istilah es buah? Karena es buah biasanya identik dengan es koktail buah yang isinya pepaya, bengkuang dan nanas (kadang ditambah kolang-kaling). Sop buah ini memang betulan seperti sop, karena isinya memang aneka buah yang berenang di dalam kuah gula dan susu seperti sop. Sebetulnya apa sih istimewanya sop buah pak Ewok ini? Semangkoknya dihargai Rp 8.000 dan terdiri dari lebih dari 10 macam buah. Kejutan aneka rasa buah pada setiap suapannya. Ada durian, nangka, pear, sawo, strawberry, melon, mangga, kelapa, anggur, jambu biji, dan apel. Pas lagi asyik mengunyah, ternyata ada lengkeng juga, masih lengkap dengan bijinya. Di suapan terakhir pun masih ada kejutan: sirsak. Bahkan ada potongan Leci juga. Pokoknya di setiap suap ada kejutan asam manis yang menanti. Hanya sayang, sejak pembelinya membludak, Pak Ewok tidak lagi menjual es campur yang isinya cingcau, biji delima, kelapa muda, kolang kaling dan alpukat. Padahal racikan es campurnya juga enak lhooo. Kete...
+Baca terus ...
+Baca terus ...
Cerita Dari Pasar Tua di Bandung (Bagian Kedua)
02-06-2009 | Ridwan Hutagalung
Ada banyak kisah menarik di balik Pasar Baru yang masih bisa kita gali. Di antaranya adalah kisah para saudagar Bandung tempo dulu yang tinggal dan menjalankan usaha dagangnya di kawasan ini. Mereka adalah para saudagar yang berasal dari Sunda, Jawa, Palembang, bahkan India dan Arab. Pada umumnya masyarakat menyebut para saudagar Pasar Baru ini dengan sebutan “Orang Pasar”. Salah satu kelompok keluarga besar para saudagar ini mengaku merupakan turunan dari istri ke-4 Pangeran Diponegoro yang dibuktikan dengan pohon silsilah yang masih disimpan oleh salah satu keluarga. Peristiwa Perang Dipenegoro (1825-1830) juga menyisakan sebuah cerita lain. Konon akibat dari peperangan itu banyak orang Tionghoa yang berpindah ke berbagai tempat, di antaranya ke Bandung. Konon pula Daendelslah yang memaksa mereka datang ke Bandung melalui Cirebon sebagai tukang perkayuan (ingat kisah Babah Tan Long yang memunculkan nama jalan Tamblong) dan dalam upaya menghidupkan perekonomian di pusat kota dekat Grootepostweg. Daerah hunian para pendatang baru ini berada di Kampung Suniaraja (sekitar Jalan Pecinan Lama sekarang) yang berada di depan Pasar Baru. Dengan begitu kampung ini menjadi lokasi pemukiman Tionghoa pertama di Bandung. Hingga tahun 1840, tercatat hanya 13 orang Tinghoa saja yang bermukim di Bandung. Pada tahun yang sama terdapat 15 orang Tionghoa yang bermukim di Ujungberung. Seiring dengan perkembangan masyarakat dan kawasan pemukiman kaum Tionghoa yang lebih banyak diarahkan ke sebelah barat pemukiman lama, yaitu di belakang Pasar Baru. Karena itu lokasi pemukiman Tiongoa pertama ini kemudian mendapatkan sebutan Pecinan Lama (Chinesen Voorstraat). Di sekitar Pasar Baru juga masih tersebar banyak sisa bangunan lama yang menjadi saksi perkembangan Pasar Baru. Kebanyakan bangunan berada dalam kondisi kurang terawat walaupun masih dipakai oleh pemiliknya sebagai rumah tinggal atau toko. Sebagian lainnya malah tampak sangat kumuh seperti menunggu waktu untuk rubuh. Sedik...
+Baca terus ...
+Baca terus ...


