PDFPrint

 

Menantang Jeram Sungai Cimanuk - Garut

25-11-2008 | Nurul Wachdiyyah Bagian paling menakutkan dari arung jeram itu cuma satu: Nagih pengen arung jeram lagi. Mahanagari dan teman-teman diajak anak-anak Darkcrossers untuk nyicip jeram sungai Cimanuk di Garut hari Sabtu, 9 Februari kemarin. Start dari Bandung pukul 07.30 dan sudah sampai Bandung lagi pada pukul 7 malam. Total ada 16 orang yang berangkat dari Bandung, 12 peserta. Emma, seorang Blogger sekaligus petani organik di Panaruban, Subang. Lalu ada Tessi, Nona Cimahi yang bekerja di Siemens Jakarta. Ada pula 2 fresh gradute Psikolog Unpad bernama Anwar dan Shinta. Berikutnya  Alwi yang baru saja pulang penelitian dari Papua dan teman kampusnya yang rame, ribut, dan energik, Ella. Dewi dan Yusi adalah dua dosen UPI Bandung, masing-masing  adalah dosen Bahasa jepang dan pendidikan Psikologi. Taufik, peserta yang termasuk sering tercebur ini adalah mahasiswa S2 ITB. Terakhir Lemet, bapak yang satu ini sudah langganan ikutan acaranya Mahanagari. Dan tentu saja ada Benben dan Ulu dari Mahanagari. Tiga lainnya adalah tim dari Darkcrossers: Dodi, Isan, Mas Andi, dan Meydi. 16 orang ini terbagi dalam 3 mobil: Cherokee, Kijang, dan sedannya Taufik. Sampai Cimanuk jam 10, setelah sebelumnya kita mampir dulu di pinggir jalan kota untuk mompa perahu. Jam 10.30 setelah briefing dan perkenalan, kita mulai nyemplung. Seorang dari kita mulai berkomentar “kok sungainya tenang gini ya” dan komentarnya berubah 180˚ setelah 1 jam berikutnya=D Selama 2 jam pertama saya gabung dengan satu perahu jagoan, isinya tim Rescue semua. Belum lagi saya perempuan satu-satunya, yang lain bapak-bapak semua. Jadi kalo saya ngedayung itu buat sopan santun aja=D Karena ingin mencoba perahunya Dark Crossers yang kelihatan besar dan anggun, saya pindah ke perahu yang dipegang Ihsan, setelah sebelumnya diceburkan secara sengaja oleh Dodi. Begitu juga yang lain. Tercatat hari itu yang tidak tercebur adalah Tessi. Sisa 3 jam berikutnya saya mendayung dari perahu Avon, yang kata Dodi adalah Mercedesnya Perahu. ...
+Baca terus ...

Siapakah Salah Satu Orang dibalik Indahnya bangunan – bangunan Kolonial di Bandung ?

17-07-2009 | Galih Mulya Nugraha Dia adalah Charles Prosper Wolf Schoemaker kelahiran tahun 1882 di Banyubiru, Salatiga Jawa Tengah. Entah apa jadinya kalau dia meneruskan karirnya di dunia militer. Karena latar belakang keluarganya keturunan militer, Schoemaker sempat mengenyam pendidikan militer dan menjadi letnan serta bekerja di korps Angkatan Darat kerjaan Belanda. C. P. Wolf Schoemaker memulai karirnya di Hindia Belanda sebagai Insinyur dalam kemiliteran, sebelum akhirnya menjadi Profesor di Technise Hogeschool Bandoeng (ITB sekarang).Tahun 1912-1913, karir rancang-bangunnya dimulai di Batavia saat Schoemaker merancang Rumah Sakit Gementee Batavia (sekarang RS. Ciptomangunkusumo). Sejak saat itu pria yang pernah menikah sampai 5 kali ini berpindah-pindah tempat kerja. Mulai dari kantor Moojen&Company. Hasil karyanya adalah stasiun kereta api kecil, komplek bengkel kereta api di Madiun, sampai menara air di Surabaya. Tahun 1914-1917, Schoemaker kembali ke pangku pemerintahan. Dia bekerja di departemen PU Gementee Batavia dan kali ini statusnya adalah direktur. Pasar hingga perencanaan bagian kota Batavia secara umum pernah dirancangnya. Tak lama, arsitek yang punya banyak julukan ini beralih ke perusahaan bernama Carl Shclieper & Company yang bergerak di bidang alat-alat teknik dan permesinan. Karena tugas, Schoemaker sempat tinggal cukup lama di Amerika untuk studi banding. Bulan mei tahun 1918, dia kembali ke tanah air dan memutuskan untuk tinggal dan bekerja di Bandung. Pada tahun 1921, Sekolah Tinggi Teknik Bandung (sekarang ITB) dibuka. Schoemaker mulai bekerja sebagai dosen disana mengajar mata kuliah Sejarah Arsitektur. Tahun 1924, laki-laki keturunan Jerman ini bergelar profesor di bidang pendidikan arsitektur. Gelar tersebut menyandang namanya hingga tahun 1941. Selain itu dia juga mendirikan biro arsitektur yang terkenal pada masanya, C. P Schoemaker en Associate Architecten en Ingenieurs. Bersama dengan salah seorang anak didik dan asistennya yang juga Proklamator Indonesia, I...
+Baca terus ...

Kemalaman Di Situ Lembang (Part One)

24-11-2008 | Nurul Wachdiyyah Sudah beberapa kali kita jalan-jalan & beberapa kali juga kita merasa bahwa episode perjalanan kita itu tidak akan terlupakan. Hmm… bagaimana dengan episode kali ini. Diawali dengan sinar matahari yang enerjik, langit biru, dan awan putih saya dan teman-teman bisa leluasa mengabadikan pemandangan Bandung Utara dengan perasaan puas. Belum lagi cuacanya yang segar, bikin tambah semangat aja. Dan pagi itu, wajah-wajah ceria siap menjelajahi kawasan Ciwangun, menjejaki pinggiran hutannya & menyusuri sungai menuju Situ Lembang  dengan satu komitmen: JALAN-JALAN SANTAI AJA. Kumpul jam 6.20 pagi di Mc D Setiabudi, Jus & Ulu adalah yang pertama kumpul. Setelah rada kenyang ngebubur di pinggir jalan Setiabudi depan Mc D (buburnya enak & banyak, Rp 5000 aja), kami pindah ke McD buat ‘numpang’ duduk nungguin yang lain sambil nonton TV. Gak lama Deni & Tika menyusul. Lalu Benben beserta istri dan anaknya, Fanny & Samsam kompak muncul. Sempet belanja makanan untuk bekal di jalan dan ngobrol-ngobrol sebentar, pak Bachtiar (later on I named him Pa Bah aja) akhirnya datang juga. Masih ada tiga orang lagi, Ella-Dody-Domba, ketiganya menunggu di Villanya Ella di Istana Bunga. Biasa deh, minta dijemput gitu hehehe =D Jadi total geng jalan-jalan Mahanagari pada Minggu 11 Mei itu adalah 11 orang, terdiri dari 4 cewek  dan 7 cowok. Paling senior adalah pa Bah dan si junior jelas si Samsam, cuma 3.5 tahun aja. CIC (Ciwangun Indah Camp) tempat start kami merupakan area khusus outbond, terletak sekitar 1-2 KM dari Curug Cimahi. Bisa ditempuh melalui Jl. Sersan Bajuri atau Lembang di jl. Kolonel Masturi. Kami sih cuma numpang parkir mobil & numpang lewat aja, karena trek yang kami lalui mesti melewati bukit diatas Ciwangun. Perjalanan menuju Situ Lembang memakan waktu sekitar 4-5 jam. Santai bangetlah, ditambah pa Bahtiar ikutan, ya gimana gak makin seru kalo hampir di tiap 10-20 meter kami berhenti untuk mendengar penjelasan pa Bah tentang kondisi sungai, air terjun, vegetasi al...
+Baca terus ...

Raja-Raja itu Menginap di Sini: Savoy Homann

07-07-2009 | Nurul Wachdiyyah Tahun 1880, sebuah hotel yang berdinding papan (bilik) setengah tembok direnovasi dan diganti dindingnya dengan tembok utuh dan permanen. Arsitektur bangunan semakin cantik dengan sentuhan langgam arsitekur kolonial dan gaya Art-Deco. Hotel pertama yang ada di Bandung ini bernama Savoy Homann, pendiri dan pemilik pertamanya adalah Homann, berasal dari Jerman. Hotel terkemuka di Bandung ini adalah salah satu yang terbaik. Para tuan tanah dan pemilik perkebunan teh di seantero Parahyangan biasa menginap di hotel ini di akhir pekan. Pelenyenggaran konfrensi dari tingkat lokal sampai internasional, resepsi, dan pesta besar (grand-ball) sering berlangsung di hotel Homann. Salah satu pesta besar yang diselenggarakan di Homann adalah tahun 1884 dalam rangka pembukaan jalur kereta api Batavia-Bogor-Cianjur-Bandung. Juga pesta besar menyambut "Kongres Teh Sedunia" tahun 1924. Dari sekian banyak orang-orang besar yang menginap di hotel Homann, berikut adalah salah satu yang fenomenal. Siapa saja? dari buku yang ditulis tahun 1989 oleh kuncen Bandung, Haryoto Kunto, dalam bukunya berjudul "Savoy Homann: Persinggahan Orang-orang Penting", mereka adalah: Dua Raja Siam (Thailand) Mereka adalah Raja Chulalonkorn pada tahun 1901 dan Pangeran Prajathipok Paramintara (yang datang ke kota ini tahun 1909. Kehadiran dua raja Thailand itu tertera dalam prasati batu alam di curug (curug = air terjun, sundanese) Dago yang ditemukan kembali di awal tahun 1989 ini. Pada batu tersebut tertulis inisial nama raja dalam huruf Thai. Lengkap dan angkat tahun dan usia sang raja. Di kota Bandung sendiri Pangeran Paribatra, kerabat Raja Siam, pernah mendirikan villa "Dahapati" di Jl. Cipaganti. Sampai kini, lahan depan Villa sang Pangeran Siam yang ditempati pompa bensin disebut Beunderan Siem. Raja Siam yang datang ke Bandung menginap di hotel Homann. Selama di Bandung, beliau mengunjungi Curug Dago setiap malam untuk bertapa. Menurut salah satu Biksu dari Vihara Menteng Jakarta, pada umumn...
+Baca terus ...

Sedikit Tentang Kue Ape di Bandung

27-08-2010 | Nurul Wachdiyyah Jajanan pinggir jalan ini warnanya hijau. Jadi mudah untuk dikenal. Bentuknya pipih dengan gumpalan adonan di bagian tengah dan disekelilingnya tipis kecoklatan. Pernah beberapa kali ngemil kue ini dan rasa pandan menguar di dalam mulut, beradu dengan rasa manisnya. Hmm nyam nyam... Kalau teman-teman pernah lihat atau makan serabi Notosuman khas Solo, nah makanan khas bernama Kue Ape ini mirip sama jajanan Solo itu. Kue Ape bisa kita beli dipinggir jalan pusat keramaian, seperti mall. Paling sering kami lihat penjual Kue Ape dan gerobaknya nongkrong di daerah Kings jl. Kepatihan. Tidak ada yang spesial dari kue rasa manis ini. Semua serba sederhana. Kecuali harga yang makin kesini makin naik saja. Kue Ape cenderung mengikuti jalan hidup gorengan. Makin mahal saja.Kalau tahun 2006 kami pernah beli Rp 5000 dapat 20 buah. Sekarang dengan duit segitu paling banter dapat 8 atau 10. Yaiks! Hmmm...berhubungan tidak setiap hari makan kue ini yasudah tidak apa-apa. Ada yang pernah makan kue Ape?   Foto dari Flickr oleh Skolastika Lianna ...
+Baca terus ...

Jadwal Kegiatan

<<  September 10  >>
 Mo  Tu  We  Th  Fr  Sa  Su 
    2  3  5
  6  7  8  9101112
13141516171819
20212223242526
27282930   

Translate This Page

Indonesian Arabic Chinese (Simplified) Dutch English Filipino French German Hindi Italian Japanese Korean Malay Portuguese Russian Swahili Thai Vietnamese
Facebook Image
- - Contact Us - - About Us - - Jobs - - Help and FAQ - -
JoomlaWatch Stats 1.2.9 by Matej Koval