Home
Keliling Museum di Bandung (II): Museum Pos Indonesia
16-10-2009 | Bang Aswi
Tidak banyak yang tahu bahwa di gedung sayap timur dari Gedung Sate yang terkenal itu terdapat sebuah museum yang sudah ada sejak 1931. Inilah Museum Pos Indonesia, dimana kita bisa menikmati perjalanan sejarah layanan pos di Indonesia sejak jaman kolonial hingga Indonesia merdeka. Gedung yang digunakan sebagai museum tersebut dibangun sekitar tahun 1920 oleh arsitek J. Berger dan Leutdsgebouwdienst, dengan gaya arsitektur Italia masa Renaissans. Sejak 1933, gedung seluas 706 meter persegi ini kemudian difungsikan sebagai museum, dengan nama Museum Pos Telegrap dan Telepon (Museum PTT). Meletusnya Perang Dunia II dan masa Pendudukan Jepang pada 1941 menyebabkan museum dengan koleksi berbagai benda-benda pos dari seluruh dunia ini tidak terurus. Bahkan sejak masa revolusi kemerdekaan hingga awal akhir 1979 Museum PTT makin tak terperhatikan. Baru pada awal 1980, Perum Pos dan Giro membentuk sebuah panitia untuk merevitalisasi museum agar berfungsi kembali sebagai sarana untuk memamerkan koleksi benda-benda pos dan telekomunikasi. Ikhtiar ini membuahkan hasil dengan diresmikannya museum tersebut pada Hari Bhakti Postel ke-38, yakni tanggal 27 September 1983 oleh Achmad Tahir, Menteri Pariwisata dan Telekomunikasi saat itu. Museum ini diberi nama Museum Pos dan Giro, mengikuti nama perusahaan milik pemerintah yang membawahi museum tersebut. Perubahan nama kembali terjadi di tahun 1995, ketika nama Perum Pos dan Giro berubah menjadi PT Pos Indonesia (Persero). Nama Museum Pos dan Giro kemudian menyesuaikan diri dengan nama baru perusahaan, sehingga menjadi Museum Pos Indonesia. Peran dan fungsi museum ini juga makin berkembang. Tak hanya menjadi tempat memamerkan koleksi, museum ini juga menjadi sarana penelitian, pendidikan, dokumentasi, layanan informasi, serta sebagai obyek wisata khusus. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi yang makin memudahkan pengiriman pesan, baik melalui jaringan internet maupun telepon seluler, membuat layanan pos makin k...
+Baca terus ...
+Baca terus ...
Asal Usul Nama Bandung
03-08-2010 | Nurul Wachdiyyah
Wilayah yang sekarang kita sebut Bandung pertama kali masuk peta pada waktu Gubernur Jendral Raffles membangun Grootepostweg (Jalan Pos) di tahun 1810. Waktu itu Bandung bernama Kabupaten Tatar Ukur. Daendels memerintahkan Bupati Tatar Ukur memindahkan ibukota Kabupatennya dari Krapyak ke arah utara sejauh 11 km sehingga pas berada di tepi Grootepostweg yang berpotongan dengan Sungai Cikapundung. Bupati Tatar Ukur waktu itu R. Wiranata Koesoemah II menyebut kabupaten baru ini dengan nama Bandong dengan ‘pusat pemerintahannya’ yang masih sangat sederhana di daerah Dalem Kaum sekarang. Beliau sendiri berjuluk Dalem Karanganyar. Ada beberapa versi ibukota Kabupaten baru ini dinamakan Bandong. Yang pertama, adalah dari kata "bandung" yang dalam bahasa sunda artinya membendung aliran air, karena memang telah terjadi pembendungan sungai Citarum akibat letusan Gunung Tangkubanparahu dimana aliran lahar gunung menyumbat sungai sehingga terbentuk telaga yang luas. Yang kedua, dari kata "ngabandung" yang artinya berhadapan atau berdampingan, Talaga Purba Bandung bila dilihat dari Gunung Tangkubanparahu tampak seperti 2 danau yang berhadapan karena adanya penyempitan tepi danau di daerah Cimahi Selatan.
Pada dasarnya asal usul nama Bandung ini banyak sekali versinya. Dalam buku tulisan Haryoto Kunto, dapat ditemukan bahwa kata Bandung, berasal dari kata Bandong, sesuai dengan penemuan sebuah negeri kecil oleh seorang Mardijker bernama Julian de Silva. Dan tercatat pula bahwa Dr. Andries de Wilde, seorang pemilik kebun kopi yang sangat luas di daerah ini, meminang seorang gadis dan kemudian menikahinya yang berasal dari Kampung Banong (di daerah Dago Atas). Malah ada pula yang berpendapat Kata Bandung berasal dari sebuah nama pohon Bandong ‘Garcinia spec’ (Heyne : 1950 Jilid III, pada halaman 2233, menyebutkan bahwa Bandong ‘Garcinia spec’ sejenis pohon yang tingginya 10 - 15 m dan besar batangnya 15 - 20 cm, dengan batang tak bercabang. Pohon ini diekspl...
+Baca terus ...
+Baca terus ...
Bicons - Bird Conservation Society
19-04-2010 | Nurul Wachdiyyah
Pernah melihat orang-orang berkumpul di Taman Ganesha sambil bawa-bawa teropong pada hari minggu ? Nah itu dia teman-teman dari komunitas BICONS.
Ternyata bisa jadi pengalaman seru loh mengamati burung-burung terbang atau menclok di pepohonan. Ayo sesekali kita ikutan program dari Komunitas BICONS. Setiap hari minggu pukul 8 pagi mereka nongkrong di taman Ganesha untuk mengamati burung-burung di sana. Salah satu alat yang digunakan adalah teropong yang disediakan oleh BICONS. Selain menambah pengetahuan tentang burung di Bandung, kita juga dapat kenalan dan pengalaman baru!
Begini caranya untuk bergabung dengan BICONS atau sekedar ingin tahu lebih banyak tentang mereka:
Jl. Paledang No. 21 Cibeureum Bandung 40184 Telp./Fax.: 022-6070139 http://bicons.wordpress.com/ bicons2000@yahoo. com ...
+Baca terus ...
+Baca terus ...
Cerita Dari Pasar Tua di Bandung (Bagian pertama)
02-06-2009 | Ridwan Hutagalung
KAWASAN PASAR BARU BANDUNG Siapa tak kenal Pasar Baru Bandung? Gedung pasar dengan bangunan modern ini terletak di Jalan Oto Iskandar Dinata (dulu Pasar Baroeweg). Bangunan yang sekarang berdiri ini mulai dibangun pada tahun 2001 dan selesai serta diresmikan oleh Walikota Bandung pada tahun 2003. Sebelum berdirinya bangunan modern bertingkat dengan kompleks pertokoan ini, Pasar Baru masih dikenal sebagai pusat perbelanjaan dengan konsep pasar tradisional. Sayang konsep ini sekarang sudah hilang dari Pasar Baru dan hanya tersisa di kawasan sekitarnya saja karena berganti dengan model Trade Centre yang belakangan populer. Pembangunan gedung modern berlantai 11 ini (termasuk basement dan lahan parkir) menelan dana lebih dari 150 milyar. Pada masa perencanaan dan pembangunan awalnya cukup sering terjadi demonstrasi yang menentangnya. Pasar Baru merupakan pasar tertua di Kota Bandung yang masih berdiri. Sebelumnya, pasar ini sebetulnya merupakan lokasi pengganti pasar lama di daerah Ciguriang (sekitar pertokoan Kings, Jalan Kepatihan sekarang) yang terbakar akibat kerusuhan Munada pada tahun 1842. Di sekitar kawasan Kepatihan memang masih dapat ditemukan ruas jalan kecil bernama Ciguriang.
Munada adalah seorang Cina-Islam dari Kudus yang tinggal di Cianjur. Setelah pindah ke Bandung Munada mendapatkan kepercayaan dari Asisten Residen saat itu, Nagel, untuk pengadaan alat transportasi kereta angkutan. Namun ternyata Munada berperangai buruk dan menyelewengkan uang kepercayaan dari Nagel untuk berfoya-foya, mabuk, dan main perempuan hingga akhirnya dia dipenjarakan dan disiksa oleh Nagel. Akibatnya Munada mendendam dan dengan bantuan beberapa orang lainnya membakar Pasar Ciguriang. Saat kerusuhan terjadi Munada menyerang Asisten Residen Nagel dengan golok hingga terluka parah dan meninggal keesokan harinya. Untuk menampung para pedagang yang tercerai-berai serta aktivitas pasar yang tidak teratur, maka pada tahun 1884 lokasi penampungan baru mulai dibuka di sisi ...
+Baca terus ...
+Baca terus ...
Keliling Museum di Bandung (I) : Museum Geologi
16-10-2009 | Bang Aswi
Pernahkah membayangkan bagaimana rasanya jika diri sendiri yang mengalami petualangan tokoh yang diperankan oleh Ben Stiller pada film “Night at Museum”? Atau, menikmati perburuan harta karun sekaligus belajar sejarah bersama tokoh yang diperankan Nicolas Cage pada film “National Treasure”? Ya, andai saja kita bisa menikmati sejarah sebegitu gamblangnya seperti dalam film-film tersebut, tentu semua orang di dunia ini akan lebih menyukai sejarah. Akan tetapi, kita bisa belajar sejarah dari peninggalan yang berhasil dikumpulkan dan dikoleksi. Ini jauh lebih menyenangkan daripada hanya belajar dari teks-teks buku yang mungkin akan mengerutkan kening. Dan salah satu tempat yang bisa menyediakan semua informasi sejarah itu adalah museum. Di Indonesia, museum yang pertama kali dibangun adalah Museum Radya Pustaka. Selain itu, ada pula Museum Gajah yang dikenal sebagai yang terlengkap koleksinya di Indonesia. Sedangkan Bandung, sebagai kota pariwisata yang kini lebih dikenal akan jajanan khas dan FO-nya, juga memiliki beberapa museum yang layak untuk disinggahi. Bukan hanya Museum Geologi yang sudah sangat terkenal, tetapi juga beberapa museum lainnya seperti Museum Pos Indonesia, Museum KAA, Museum Mandala Wangsit Siliwangi, Museum Sri Baduga, Museum Virajati Seskoad, dan Museum Barli. Museum Geologi Keberadaan Museum Geologi berkaitan erat dengan sejarah penyelidikan geologi dan tambang di wilayah Nusantara yang dimulai sejak pertengahan abad ke-17 oleh para ahli dari Eropa. Setelah di Eropa terjadi revolusi industri pada pertengahan abad ke-18, mereka sangat membutuhkan bahan tambang sebagai bahan dasar industri. Pemerintah Belanda sadar akan pentingnya penguasaan bahan galian di wilayah Nusantara. Dengan jalan itu diharapkan perkembangan industri di Belanda dapat ditunjang. Maka dibentuklah Dienst van het Mijnwezen pada 1850. Kelembagaan ini berganti nama jadi Dienst van den Mijnbouw pada 1922, yang bertugas melakukan penyelidikan geologi dan sumberdaya min...
+Baca terus ...
+Baca terus ...


