khantry design

Selamat Datang di Website Mahanagari

PDFPrint

Halo! Selamat datang bin wilujeng sumping,

Selamat datang di Website resmi Mahanagari, sekaligus toko kedua kami setelah Mahanagari di CiWalk (Cihampelas Walk). Mahanagari mendesain kaos-kaos bertema Bandung. Kami mengangkat tema sejarah, budaya, hingga kehidupan sosial Bandung ke dalam media kaos. Beli kaos Mahanagari dapat dilakukan via online. Masuki Shop Online, yang terdapat di panel atas dan kiri, pilih link untuk tshirt laki-laki dan tshirt perempuan, lalu pilih kaos yang Anda sukai. Ikuti prosedur pembeliannya dan jangan lupa: daftar dahulu sebagai member website ini ya!

Karena website ini juga bertujuan untuk kampanye pengetahuan mengenai Budaya Bandung, maka Mahanagari akan terus meng-update informasi mengenai Kota Bandung tercinta - mulai dari tempat-tempat yang seru untuk dijelajahi, makanan yang harus dicoba, sejarah yang harus diketahui, dan cerita-cerita menarik lain. Termasuk beberapa komunitas di Bandung yang aktif berkegiatan. Masuki Catatan Perjalanan, Cerita Bandung, Travel Guide, dan Komunitas-komunitas di Bandung di All About Bandung. Panel ini ada disebelah kiri Anda. Mahanagari dan kegiatan Jalan-jalan Budaya dapat dilihat di Bandung City Tour, klik di bagian atas ujung kanan web ini.

Album Foto Mahanagari yang berisi Local Genius Mahanagari, Weega Mahanagari, Contributing Designer dan Contributing Writer dapat diakses melalui tombol di panel kiri.  Album Bandung Tempo Dulu pun dapat anda nikmati jika anda register terlebih dahulu di mahanagari.com.

Untuk teman-teman yang tertarik untuk memesan kaos khusus atau ingin desain merchandise perusahaan atau komunitasnya di-upgrade agar se-keren desain-desain Mahanagari, silahkan klik tombol Special Order di bagian atas website ini.

Dan jangan lupa berikan komentar Anda di web ini ;)

Hatur nuhun & enjoy the site!

-www.mahanagari.com-

 

3 Trip Jalan Kaki di Bandung

20-07-2010 | Nurul Wachdiyyah Jalan kaki bagus buat kesehatan. Untuk beberapa orang jalan kaki malah bisa jadi obat stres. Sebagai kota yang tidak memperhatikan kebutuhan para pejalan kaki, Bandung punya beberapa lokasi yang masih cukup nyaman buat para pejalan kaki. Yah, sedikit perjuangan lah jalan kakinya. Sedikit naik turun atau kesenggol motor. Sambil loncat juga bisa, menyebrangi bolongan-bolongan trotoar. Namanya juga di parit van java, bukan di Paris. hehehe. Ini dia beberapa kawasan yang masih cukup nyaman untuk berjalan kaki. Sambil jalan kaki, sambil lihat-lihat pemandangan. 1. Ke pusat kota 'tua' Bandung. Ada di jl. Asia Afrika dan Braga. Dengan berjalan kaki di sekitar kawasan ini, kita bisa lihat bangunan-bangunan tua nan bersejarah. Beberapa masih dalam kondisi yang bagus, sementara yang lainnya ada yang kotor tak terawat. Nantinya gak hanya lihat-lihat aja, kunjungi juga beberapa tempat disana. Misalnya museum Konperensi  Asia Afrika, Sumur Bandung di Gedung PLN, menyantap es krim di Sumber Hidangan, dan serentetan aktivitas lainnya. 2. Kawasan Pasar Baru Paling enak jalan kaki di Kawasan pecinan lama-nya Bandung ini di pagi hari. Masih segar dan suasananya belum hiruk pikuk. Kawasan ini adalah arena belanja banyak orang, ada Pasar Baru yang menjual semua barang dengan harga miring edun, ada pula geng penjual bahan Jeans meteran yang murah. Lalu ada yang jual bahan makanan, obat-obat herbal, dan peralatan dapur. Super lengkap. Sambil jalan-jalan bisa sambil hunting barang atau sekedar lihat-lihat juga masih menyenangkan kok. Nanti kalau jalan-jalan disini mampir deh ke satu tempat makan, jualannya Cakue & bubur Cina. Namanya  Toko Cakue dan Bapia Lie Tjay Ta dan cuma buka sampai pukul 11 siang. 3. Kampus Ada dua kampus besar di Bandung (besar = luas). Saking luasnya, dua kampus negeri ini enak banget kalau dijelajahi dengan berjalan kaki. Adem, masih banyak pohon, trotoar lebar, dan minim kendaraan umum. ITB dan UPI. Keduanya berada di Bandung Utara. Cuma si kampus UP...
+Baca terus ...

Keliling Museum di Bandung (V) : Museum Mandala Wangsit Siliwangi

19-10-2009 | Bang Aswi Museum ini, sayangnya, kurang sekali mendapat perawatan. Di dalam gedungnya lembab, ada beberapa yang bocor dikala hujan, dan penerangan yang tidak memadai. Beberapa, kebanyakan orang malah, mengatakan museum ini horor. Ada suasana yang bikin merinding begitu masuk ke dalamnya. Benarkah demikian? Ayo coba buktikan sendiri. Museum Mandala Wangsit Siliwangi dibuka oleh Komandan Kodam Militer VI Siliwangi, pada tanggal 23 Mei 1966 dan berkedudukan di bawah Kodam VI Siliwangi, TNI Angkatan Darat. Museum ini merupakan gambaran dari perjuangan militer Divisi Siliwangi dan rakyat Jawa Barat. Karenanya koleksi museum kebanyakan adalah senjata, mulai dari yang tradisional hingga yang cukup modern dijamannya. Pedang ala kompeni, ada. Pedang jawara, ada. Belati berikut bekas darahnya, ada. Bahkan jubah yang dipercaya bikin pemakainya invisible alias gak kelihatan. Persis jubahnya si Harry Potter. Intinya, koleksi museum ini terdiri atas peninggalan sejarah pada masa  sebelum kemerdekaan, perang kemerdekaan, serta periode setelah kemerdekaan. Koleksi musem tersebut antara lain berupa senjata tradisional, mebelair, lukisan peristiwa Bandung Lautan Api, koleksi khusus milik Husein Somaprawira, senjata samurai, dan senjata-senjata asli Indonesia, khususnya dari Jawa, serta berbagai bendera dan lambang-lambang kesatuan. Divisi Militer Siliwangi didirikan pada 20 Mei 1946 dengan Kolonel AH. Nasution sebagai komandan pertamanya. Pasukan Siliwangi tidak pernah absen dari berbagai perjuangan, yaitu selama perang kemedekaan serta melawan kelompok-kelompok yang ingin mengancam stabilitas Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di museum ini juga terdapat koleksi yang dipamerkan secara out door, seperti berbagai peralatan perang, tank, panser, dan canon. Storyline atau jalan peristiwa tata pameran museum Mandala Wangsit Siliwangi terdiri dari: (1) Palagan Bandung 1945-1946; (2) Perang Kemerdekaan 1947-1949; (3) Perang Pasca-Kemerdekaan. Program museum ini adalah pemanduan pengunjung, pam...
+Baca terus ...

Kisah Pendiri Sekolah Perempuan Pertama di Bandung

03-02-2009 | Nurul Wachdiyyah Wanita keturunan menak ini lahir di Bandung 4 Desember tahun 1866. Pernah hidup berkecukupan dan selama beberapa tahun kemudian beliau mesti berjuang sendirian melawan lapar dan cacian di rumah pamannya. Sempat pula beliau meminta bantuan kepada orang yang dulunya menjerumuskan sang ayah ke tanah pengasingan di Bengkulu. Yang terjadi kemudian adalah sekolah yang didirikannya tersohor kemana-mana. Sekolah Kautamaan Istri, sekolah khusus untuk perempuan pribumi. Saat Dewi Sartika berumur 8 tahun, Pemerintah Kolonial menghukum Raden Rangga Somanagara yang dianggap memberontak karena rencana dan aksi pengebomannya di upacara peresmian Bupati Bandung yang baru. Rangga Somanagara adalah ayahanda Dewi Sartika. Beliau tidak menyetujui pengangkatan bupati Bandung yang baru karena menurutnya bupati itu bukan orang asli Bandung. Pihak Belanda membuang mantan Patih Bandung itu ke Pulau Ternate. Beberapa priyayi lain yang ikut dalam aksi pengeboman juga turut diasingkan, termasuk kakek Dewi Sartika. Dewi Sartika dan kakaknya tinggal berpencar di antara kerabat keluarganya. Sementara Raden Ayu Rajapermas, ibu Dewi Sartika, memilih mengikuti suaminya di tanah pengasingan. Dewi Sartika dan Masa Kecilnya Kehidupan ala menak yang diperoleh Dewi Sartika kecil berhenti seketika semenjak ayahnya diasingkan ke Pulau Ternate. Dewi Sartika tinggal di rumah kakak kandung ibunya di Cicalengka, Raden Demang Aria Surakarta Adiningrat. Perlakuan tidak ramah dan kasar kerap kali dialami oleh Dewi kecil. Dewi Sartika dianggap sebagai anak pemberontak. Siapapun yang membela atau memperlakukan Dewi dengan baik akan dicap sebagai pro pemberontak. Karena alasan itulah, paman ibu Dewi yang juga Patih Cicalengka, memperlakukan Dewi Sartika sebagai abdi dalem di rumahnya. Dewi mulai menjalani hidupnya yang sangat berbeda jauh dengan gaya hidup sebelumnya. Babak ini dimulai dengan drop out dari sekolahnya. Dewi menjadi abdi dalem alias pembantu di rumah pamannya sendiri. Beliau mulai terbiasa dengan...
+Baca terus ...

Siluman Tulen di Puncak Gunung Manglayang

07-08-2009 | Nurul Wachdiyyah Minggu (02/08/09) keberangkatan yang dijadwalkan pagi pukul 6 molor hingga hampir menyentuh angka 7. Peserta yang datang dikala Bandung masih gelap, Gedebage, Margahayu, bahkan Jakarta, mesti rela menunggu. Briefing pun dimulai saja sambil menanti kedatangan beberapa peserta yang lain. Setelah perkenalan peserta, jalur, dan sedikit bahasan mengenai Gunung Manglayang, total 25 orang siap berangkat. Truk militer sewaan mengangkut dan membawa kami menuju Wana Wisata Batu Kuda di Ujung Berung. Melalui lokasi wisata inilah kami akan memulai petualangan menaklukan tanjakan Manglayang yang tidak ada habisnya. Masuk melalui kawasan bernama Ciguruwik, truk meluncur mulus di jalanan yang hanya muat untuk satu kendaraan saja. Sisi kanan dan kiri adalah kompleks perumahan dan masyarakat yang lalu lalang menikmati hari minggu. Gunung Malangyang yang dari jauh terlihat biru kini mulai menghijau. Kami sudah dekat dengannya. Truk melaju menaiki jalan yang mulai menanjak. Mendekati lokasi wisata, truk sempat valid (naon valid? kata orang Sunda mah Palid) karena pak Toleh, sopir truk, lupa memindahkan gigi. Di tanjakan yang memanjang curam itu truk mundur mendadak. Beberapa peserta perempuan teriak ketakutan. Dengan sigap pak Toleh menginjak rem dan memundurkan truk secara perlahan. Begitu sampai di titik yang dia anggap cocok untuk restart mesin, dia berhenti dan mulai bergerak dengan gigi kendaraan yang sesuai. Brummm....truk maju. Pelan-pelan. This is the real rollercoaster...pengalaman pertama, jantung hampir copot di atas truk yang kami tumpangi. Pohon pinus, udara sejuk, dan loket masuk. Artinya, kami sudah ada di dalam lokasi Batu Kuda. Semua peserta turun dari mesin cadas itu. Sebelum naik gunung, beberapa peserta menuntaskan bisnisnya di toilet yang tersedia. Setelah itu pemanasan. Kang Asep, salah satu peserta yang rumahnya di Ujung Berung mengatakan pemanasan ini sangat perlu mengingat jalur mendaki yang tidak biasa. Usai lk. 15 menit peregangan otot-otot di tubuh, kami ...
+Baca terus ...

Gua Pawon, Keindahan yang Terlupakan

22-04-2010 | Aisha Ria Ginanti Gua Pawon adalah sebuah tempat yang penting bagi orang Sunda karena di sana pernah ditemukan kerangka manusia purba yang konon adalah nenek moyang orang Sunda (masih diteliti di balai Arkeolog Bandung). Gua ini sebenarnya adalah sebuah situs purbakala yang terletak di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, atau sekitar 25 km arah barat Kota Bandung. Namun sayangnya popularitas Gua Pawon sendiri sebagai sebuah tempat wisata kalah dengan tempat-tempat wisata lainnya yang berada di sekitar Bandung. Misalanya saja oleh Kawah Putih, Tangkuban Perahu ataupun Situ Cibutur yang berada di dekatnya. Jadi bagi yang tinggal di daerah Bandung atau pun yang sering berdomisili di Jatinagor seperti kami, kami sarankan untuk berkunjung ke Gua Pawon ini. Untuk ke Gua Pawon, khusunya untuk yang berdomisili di Bandung atau Jatinangor, sebenarnya tidaklah sulit dan tidak memerlukan biaya yang besar. Kita tinggal naik bus jurusan Jakarta, Cianjur atau Bogor yang melewati Padalarang. Setelah itu turun di di jalan raya Bandung -  Cianjur, tepatnya di daerah Citatah. Tidak sulit ditemukan karena di pinggir jalannya ada plang bertuliskan ’Situs Sejarah Gua Pawon’. Semoga saat teman-teman pas kesana plangnya tidak sedang ambruk. Letaknya tidak jauh setelah melewati Situ Ciburuy. Kalau sama sekali tidak tahu kawasan ini, bisa minta tolong pada kernet bisnya. Ongkos yang harus dikeluarkan juga tidak terlalu mahal. Saat itu kami naik dari Cileunyi dan diharuskan membayar Rp 7.000, mungkin kalau dari Bandung antara Rp 20.000 -  Rp 25.000. Setelah sampai di plang tersebut ada sebuah belokan berupa sebuah jalan panjang yang tidak terlalu besar hanya saja jalanya sudah rusak cukup parah. Mungkin karena banyaknya truk pengangkut batu kapur yang sering pulang pergi lewat jalan itu. Sebenarnya untuk sampai ke Gua Pawon dari jalan tersebut, mempunyai dua pilihan. Pertama, naik ojeg dengan tarif sekitar Rp 10.000,- atau jika ingin merasakan perjalanan y...
+Baca terus ...
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Indonesian Arabic Chinese (Simplified) Dutch English Filipino French German Hindi Italian Japanese Korean Malay Portuguese Russian Swahili Thai Vietnamese
- - Contact Us - - About Us - - Jobs - - Help and FAQ - -
JoomlaWatch Stats 1.2.9 by Matej Koval